Labels

Showing posts with label komunitas. Show all posts
Showing posts with label komunitas. Show all posts

4/19/2014

SERUNYA SELFIE RUN

Berlari untuk Narsis



<B>RIBUAN<P> orang memadati penggal Jalan Margo Utomo atau Jalan Mangkubumi Yogyakarta Minggu (13/4) pagi untuk berlari bersama. Beberapa orang bergerombol memasang muka senyum atau manyun dengan <I>handphone<P> yang dilengkapi dengan tongkat narsis (tongsis). Peserta yang lain pun antusias memfoto diri mereka sendiri atau narsis. Semakin seru ketika bubuk warna warni ditaburkan ke arah peserta.

Suasana seru inilah gambaran dari acara Selfie Run yang diadakan oleh Indosat bekerja sama dengan Kedaulatan Rakyat (KR) Group. Selfie Run ini dilepas oleh Direktur KR dr Gun Nugroho Samawi dengan mengibarkan bendera.

Acara yang menjadi bagian dari Togoe Jogja Festival (TJF) kedua ini diikuti sekitar 2.000 peserta baik anak muda maupun orangtua. Kegiatan ini juga untuk  memeriahkan Hari Ulang Tahun(HUT) 4 media KR Group yakni Minggu Pagi, KR Radio, KR Jogja.com dan Koran Merapi Pembaruan.

”Bagus. Buat seru-seruan. Positif juga karena lari buat olahraga menyehatkan,” kata Novi salah satu peserta Selfie Run kepada <I>Merapi<P> di sela acara.

Dia bahkan sengaja tampil beda dengan mengenakan rok seperti balerina. Menurutnya cara itu agar jadi pusat perhatian di antara ribuan peserta lainnya. Hal senada juga dikatakan oleh Iyan peserta Selfi Run lainnya.

”Di Yogyakarta acara lari masih sedikit. Apalagi sambil foto narsis,” kata Iyan anggota Komunitas Indorunners Jogja itu.

Tidak kalah dengan anak muda, beberapa orang lansia juga mengikuti acara ini. Seperti Suparjo (70) warga Ronodigdayan, Bausasran, Danurejan. Namun ia sendiri tidak memahami selfie dan narsis, hanya berlari.

”Saya senang olahraga dan suka lari, makanya ikut acara ini,” kata Suparjo yang seminggu sekali berlari di sejumlah jalan di Kota Yogyakarta itu.

Peserta ini berlari menempuh jarak 5 km dengan mengambil start dan finish di Jalan Margo Utomo. Tidak seperti lari bersama lainnya, di tengah jalan peserta bebas berekspresi memfoto diri. Sampai di finish semua peserta memperoleh medali dan tetap narsis tiada henti.

Ketua Panitia HUT Bersama 4 Media KR Group, Baskoro Jati menyatakan mendukung penuh acara yang digandrungi anak mudah itu. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Indosat atas kerja samanya.

Selain selfie, TJF juga dimeriahkan dengan 240 tumpeng persembahan dari para pelaku usaha di Jalan Margo Utomo. Sebanyak 100 tumpeng di antaranya persembahan dari Indosat.

“Tumpeng ini akan dimakan bersama-sama warga,” kata Ketua II Panitia TJF Widyo Suprayogi.

TJF yang diadakan bekerja sama dengan Pemkot Yogyakarta dan Dini Media Pro ini juga menampilkan kreativitas pelajar SMA di Yogyakarta di bidang seni budaya. Ada pentas musik, tarian, teater, mini orkestra. Selain itu juga ada konsultasi kesehatan dan donor darah.<B>(Tri)<P>



Foto -TRI DARMIYATI
Para peserta Selfie Run berfoto bersama dengan handphone yang dilengkapi dengan tongsis agar maksimal.

5/11/2013

Jogja Pen Spinning Community (JPSC)

Memutar Pena Itu Candu

PENA warna warni itu meliuk-liuk di sela jari-jari mereka. Sesekali gerakan memutar dipadukan melempar menghasilkan gerakan apik dipandang mata. Meski gerakan meliuk dan memutar, pena itu tidak terjatuh, seperti melekat di tangan. Inilah permainan seni memutar pena dengan tangan atau dikenal pen spinning. Menguasai setiap trik gerakan memutar pena menjadi candu para penggemar pen spinning.
Sejumlah anak muda di Yogyakarta yang tergabung dalam Jogja Pen Spinning Community (JPSC) sudah hampir tiga tahun ini menggemarinya. Di setiap kesempatan ada pena atau puplen refleks tangan mereka memainkannya. Di kelas atau saat sedang di jalan mereka memainkannya. Bagi orang awam yang tidak mengetahui permainan ini mengganggap mereka kurang kerjaan.
“Pertama kali lihat saya heran dan terkesima. Main pulpen diputar-putar tapi kok tidak jatuh. Dari saya situlah tertarik permainann ini. Setiap satu trik berhasil dikuasai, rasanya tertantang untuk menguasai trik lainnya,” terang Adrinanus Wisnu salah satu anggota JPSC saat berbincang dengan Merapi di sela kegiatan mereka Jumat (4/12) malam.
Dari berbagai referensi permainan pen spinning  bermula di Jepang sekitar tahun 1970. Namun baru berkembang pesat tahun 2000-an. Pada dasarnya semua pena, pensil atau spidol dapat menjadi alat permainan ini. Namun untuk keseimbangan dan keindahan permainan dibutuhkan pena yang sudah dimodifikasi atau <I> pen mod<P>.
“Butuh ketelatenan untuk memainkannya. Paling tidak butuh waktu tiga bulan untuk bisa dikatakan spinner(pemain pen spinning). Satu menit memutar, jari-jari rasanya sudah cukup pegal,” kata Adrianus yang akrab disapa Ian itu.
Ian belajar permainan ini secara otodidak dari video di You tube dan akhirnya masuk di JPSC. Kini ia aktif mengikuti turnamen pen spinning tingkat nasional secara online. Hal yang sama juga dialami salah satu penggagas JPSC, Billy Ramadian. Dia bahkan sempat dimarahi orangtua karena menghabiskan uang hanya untuk membeli pulpen yang mahal. Namun akhirnya orangtua bisa menerima melihat hobi ini juga menghasilkan.
“Awalnya dibilang autis dan kurang kerjaan. Tapi ini namanya hobi memiliki kesenangan masing-masing,” kata Billy.
Permainan ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 2008 dan ke Yogyakarta sekitar tahun 2009. JPSC Sendiri terbentuk pada 25 Februari 2010. Kini keanggotaanya mencapai ratusan dengan peserta aktif sekitar 20 orang. Mereka kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Sebulan sekali komunitas ini ini berkumpul saling sharing dan mempelajari trik pen spinning. Turnamen secara internal juga diadakan untuk meningkatkan kemampuan. Komunitas ini juga sering diundang untuk mengisi berbagai kegiataan komunitas dan festival.
Mereka menjelajah di setiap toko alat tulis untuk mencari komponenen pembuatan pena mod. Bahkan rela merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkan pen mode yang sebagian harus diimpor ini. Satu pen mod dibuat dari 5 komponen pena yang berbeda merek. 
Untuk memainkan <I> pen spinning<p> paling tidak ada empat gerakan dasar yang harus dikuasai. Gerakan dasar ini yakni pena mengitari ibu jari (thumb around), memutar pena dengan semua jari dipadu gerakan maju mundur seperti putaran stik (Charge), modifikasi gerakan charge yang dipindahkan ke sela jari-jari lain (Sonic) dan memutari jari-jari dari telunjuk (finger pass)
“Trik dasar, ini harus dikuasai. Trik lainnya merupakan gabungan gerakan keemat trik itu,” tambah Billy yang memiliki koleksi puluhan pen mod ini.
Permainan ini dinilai dari berbagai segi. Bisa dari banyaknya trik yang digunakan dalam sekali permainan, putaran yang konstan dan seberapa lama putaran pena. Untuk memainkannya pun ada beberapa gaya. Menurutnya yang sedang trend adalah gaya power trick, yakni menggabungkan gerakan pena memutar dan melempar.
“Yang paling sulit gaya smoothnes dimana menggabungkan banyak trik tapi gerakannya tetap konstan,” urai mahasiswa UPN Vetaran itu.
Bagi anda yang tertarik dengan permainan ini komunitas ini terbuka menerima saat kegiatan kumpul bersama. Selain itu bisa juga mengakses account Twitter @jpsc25 atau Facebook, Jogja Pen Spinning Community.  Ke depan komunitas ini berupaya terus menghidupkan permainan ini dan mencari sponsor untuk mendukung kegiatan.(Tri)

MERAPI-ISTIMEWA
05JPSC
Teman-teman JPSC saat tampil memainkan seni memutar pena atau pen spinning.

*Pernah dimuat di rubrik komunitas Gayeng di Koran Merapi Pembaruan


PODJOK

Kembalikan Yogya Sebagai Kota Wisata Sepeda
PEMBERITAAN bencana Gunung Merapi yang berlebihan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan di Yogya. Sejumlah komunitas yang cukup beragam berupaya mengembalikan Yogya aman untuk dikunjungi. Seperti komunitas sepeda ontel Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) yang bersepeda untuk pulihkan wisata Yogya.
Podjok yang berdiri empat tahun silam itu dalam kegiatan rutinnya memang tidak jauh dari jalur wisata. Sehingga tak heran, Podjok ikut aktif dalam gerakan pemulihan wisata Yogya dengan gerakan sepeda onthelnya.
“Kami cukup terpukul dengan kondisi tersebut. Bersama pihak terkait wisata kami dari Podjok mencoba mengembalikan kondisi Yogya Aman untuk dikunjungi wisatawan lagi,” terang Muntowil Ketua Podjok saat berbincang dengan <I>Merapi<P> baru-baru ini.
Beragam kegiatan diiikuti untuk pemulihan wisata di Yogya, seperti diundang bergabung dengan komunitas atau instansi lain untuk mengadakan kegiatan festival. Pengiriman kerabat (red. anggota) Podjol dalam pertemuan onthel nasional di Cirebon baru-baru ini, dan membawa pesan Yogya aman dikunjungi.
“Kegiatan terdekat minggu 5 Desember ini kami akan mengikuti kegiatan kenduri Yogya. Salah satu kegiatan pemulihan wisata yang diadakan Kota Yogya,” ujarnya.
Komunitas Podjok sendiri merupakan salah satu komunitas sepeda onthel di Yogya yang cukup unik. Dari cara pakaian ketika berkumpul menjadi ciri khasnya. Dengan pakaian jawa ditambah kain jarik dan penutup kepala pada masa perjuangan. Ada pula yang mengenakan baju belanda dengan kain dril lengkap topinya.
“Cara pakaian unik tersebut untuk menarik masyarakat bersepeda. Selain itu sebagai nostalgia sepeda pada zaman dulu,” imbuhnya.
Kerabat Podjok atau sebutan anggotanya terdiri dari penggemar sepeda onthel. Saat ini jumlah anggota mencapai 650 an dengan anggota aktif sekitar 150. Sepeda yang digunakan kerabat Podjok adalah sepeda onthel lawasan yang cenderung orisinil.
Awalnya Podjok didirikan tiga penggagas yakni Towil, Ananta dan Bagus pada 19 November 2006. Pembentukan paguyuban Podjok merupakan bentuk jawaban atas kegelisahan ketiganya terhadap nasib sepeda-sepeda onthel yang semakin terpinggirkan karena perubahan jaman.
“Sepeda onthel sebagai benda multiguna bersejarah perlu dirawat dan dilestarikan. Dengan sepeda onthel juga merespon beberapa tantangan zaman sekarang seperti global warming, krisis energi, krisis kesehatan masyarakat, krisis patriotisme dan krisis budaya,” urai warga Kulon Progo itu.
Kegiatan rutin yang digelar Podjok ialah Apel Malam Minggu pukul 20.00 hingga 23.00 WIB di depan K
antor Pos Besar Yogyakarta. Selain itu ada Ritual Mubeng Nagari hari Minggu pertama setiap bulannya yang diawali dengan Apel Pagi di depan Pagelaran Kraton Kasultanan Yogyakarta (Alun-Alun Utara). Bagi yang berminat bergabung bisa datang saat pertemua Apel Malam Minggu.
“Kami tetap membawa misi mengembalikan Yogya sebagai kota sepeda kembali lewat jalur wisata. Meski tidak mudah untuk mengajak masyarakat memakai sepeda sebagai alat trasnportasi lagi,” tutupnya. (Tri).

MERAPI-ISTIMEWA
Kerabat Podjok saat berkumpul bersama dengan sepeda onthel dan pakaian unik khas Jawa Belanda.
Pernah dimuat di Koran Merapi Pembaruan

4/27/2013

JOGJA ROLLERBLADER (JogRoder) , Memacu Adrenalin di Atas Sepatu Roda



MERAPI-TRI DARMIYATI
Teman-teman pengemar inline skate di JogRoder
saat berlatih bersama.


Add caption


SORE hari di lapangan basket Kampus Insititut Seni Indonesia (ISI)  Yogyakarta, sejumlah anak muda terlihat asyik bermain sepatu roda atau inline skate. Satu persatu mereka melompat dan meluncur di atas lintasan dengan berbagai trik. Mulai dari yang sederhana sampai ekstrem, seperti saat satu lintasan dipakai dua pemain sekaligus. Meskipun sesekali harus jatuh tersungkur, mereka bangkit dan bermain kembali.

Inilah aktivitas teman-teman penggila inline skate yang tergabung dalam Jogja Rollerblader (JogRoder) saat berlatih bersama. Bagi mereka jatuh lecet adalah makanan wajib saat bermain inline skate. Butuh keseimbangan, keberanian dan latihan terus menerus untuk menaklukan setiap trik-trik dalam bermain free style inlane skate.

“Nggak boleh takut jatuh. Sensasinya itu kalau bisa memainkan dan menguasai trik-trik, rasanya puas,” ujar Inu salah satu penggemar inline skate di JogRoder kepada Merapi di sela latihan belum lama ini.

Sudah dua tahun ini Inu menggemari  bermain inline skate jenis free style. Dia sudah sering jatuh, tapi tidak membuatnya kapok dan terus mencoba trik-trik bermain inline skate.

Hal senada juga dikatakan Halim Karnadi dan Bilma Tea Putra yang menjadi penggagas Jogroder. Adrenalin terpacu ketika ada dorongan untuk bermain trik-trik. Semakin sulit trik yang harus dimainkan, justru membuat mereka semakin terpacu untuk terus mencoba hingga berhasil.

“Seminggu nggak main inline skate rasanya ada yang kurang. Kaki rasanya jadi gatal kalau nggak gerak buat main inline skate,” kata Halim yang pernah menjuarai kompetisi inline skate itu.

Berbeda dengan klub-klub sepatu roda yang dibawahi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) atau sepatu roda atletik lebih banyak bermain pada kecepatan. Sementara teman-teman di JogRoder lebih memilih bermain di jalur free style.

Mereka menggunakan inline skate jenis aggressive yang tidak dilengkapi rem, sehingga untuk menghentikannya ada teknik khusus. Harga inline skate ini berkisar Rp 2 sampai Rp 5 jutaa dan harus diimpor. Di Yogyakarta sendiri penyedia inline skate jenis ini belum banyak, sehingga sebagian besar dibeli secara online dari internet.

“Kuncinya main inline skate itu harus menguasai dulu gerakan dasarnya, seperti menjaga keseimbangan dalam berjalan, belajar melompat dan memainkan trik dengan inline skate. Jika menguasai itu nanti mengalir mainnya,” tambah Halim.

Sejumlah teknik mereka pelajari dari melihat video di You Tube. Bagi mereka yang sudah mengusai, saling membagikan tips dan trik permainan ke teman-teman lainnya.Lantaran sudah terbiasa, teman-teman JogRoder tidak mengenakan pengaman seperti pelindung lutut dan lainnya. Meski demikian, mereka belajar trik jatuh secara benar untuk mengurangi cidera,
“Kalau mau jatuh tidak boleh panik. Tubuh harus mengikuti arah jatuh dan tidak boleh kaku,” tambahnya.  

JogRoder sendiri terbentuk pada Maret 2010 oleh Bilma dan Halim yang sama-sama memiliki hobi bermain inline skate. Mereka sering bermain bersama dan mendorong munculnya penggemar inline skate baru. Seiring waktu teman-teman yang menyukai roller blade cukup banyak dan terbentuklah komunitas JogRoder.

Kini Setidaknya ada 20 orang teman-teman Jogroder yang aktif mengikuti latihan. Sebagian besar mereka masih berstatus mahasiswa. Seminggu tiga kali mereka berlatih bersama dan salin belajar serta berbagi seputar informasi inline skate.

“Selain mewadahi para penggemar, kami juga ingin mengenalkan free style inline skate lebih luas kepada masyarakat. Ada sisi <I>fun<P> dan ekstrem dari inline skate, bukan hanya atletik,” tutur Bilma.

Selain berlatih bersama, JogRoder juga mengadakan cek spot yakni bermain inline skate di jalan di beberapa kota, misalnya di Semarang, Solo dan Bandung. Berbagai kompetisi free style mereka ikuti dan adakan.  

Menurutnya inline skate free style di Yogyakarta belum seramai dai Bandung dan Jakarta. Ini karena sarana dan prasarana pendukung masih minim. Mulai dari ketersediaan inline skate masih kurang dan ruang publik yang disediakan pemerintah belum ada.

Komunitas ini terbuka untuk umum. Bahkan tidak harus bisa bermain inline skate. “Beberapa teman-teman di sini awalnya memulai dari nol. Mereka yang tidak punya alat, kita pinjami dulu. Kalau sudah bisa baru beli,” ucap Bilma.

Bagi teman-teman yang tertarik bergabung di komunitas ini dapat mengakses account Twitter di @JogRoder atau Facebook di fanpage Jogjakarta RollerBlader Siapan nyalimu, pacu adrenalin di atas roda.(Tri)


*Pernah dimuat di Koran Merapi Pembaruan, Halaman Gayeng, rubrik komunitas

6/23/2011

Hindari Gendam, Tepuk Balik Sentuhan Penggendam

Gendam selalu diidentikan dengan hipnotis. Namun sesungguhnya gendam dan hipnosis (ilmu hipnotis) memiliki perbedaan tipis. Gendam dan hipnosis sama-sama mempengaruhi pikiran orang untuk tujuan tertentu.
Gendam kebanyakan dilakukan untuk tindak kejahatan. Namun masyarakat tak perlu panik, ada sejumlah antisipas si yang bisa dilakukan.
Menurut salah seorang mantan pelaku gendam Ag (35) (bukan nama sebenarnya)yang tinggal di Yogyakarta, gendam dilakukan dengan mempengaruhi pikiran korban melalui sentuhan fisik. Sentuhan fisik seperti dengan tepukan di salah satu bagian tubuh korban.
“Cukup sekali sentuh, orang akan menuruti apa yang diperintahkan pengendam. Selang beberapa menit, orang tersebut baru sadar. Gendam tidak bisa dilakukan dengan perantara media telepon atau sms,” kata Ag saat berbincang dengan Merapi baru-baru ini.
Ag yang sekarang berprofesi sebagai hipnoterapi menjelaskan, gendam dan hipnotis sama-sama bertujuan mempengaruhi pikiran seseorang untuk melakukan sesuatu. Perbedaannya hipnotis memerlukan kesepakatan dari orang yang bersangkutan dan pada gendam tidak perlu ada kesepakatan tersebut. Ilmu gendam juga membutuhkan unsur magis untuk melakukan aksinya sedangkan hipnotis tidak.
“Dulu saya harus menjalani puasa 40 hari dan sejumlah ritual klenik. Tubuhjuga diisi dengan kekuatan magik. Setelah itu ilmu gendam sudah bisa digunakan. Kalau hipnosis itu murni pengaruh pikiran,” ujarnya.
Sejumlahantisipasi yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghindari gendam antara lain pikiran jangan terlalu fokus pada sesuatu, suka murung dan pikiran kemana-mana. Saat-saat seperti itu, menurut Ag, gendam mudah masuk.
“Pikiran yang terlalu fokus misalnya membaca buku atau bersms denganhandphone. Cara lain untuk menghindarinya, bisa dengan reflek menepuk balik orang tersebut yang dicurigai penggendam,” tandasnya.(Tri)

Dimuat di Koran Merapi Pembaruan Yogyakarta Minggu 3 Oktober 2010