10/12/2015

Jangan Pandang Sebelah Mata

Tidak semuanya orang pendiam itu bersikap diam dan acuh. Aku mengalaminya hari ini. Terkadang orang yang selama ini aku anggap cuek dan pendiam ternyata memiliki perhatian dan kepedulian. Spontanitas kepeduliannya. Bahkan lebih dibandingkan orang yang memiliki omong besar. Aku jadi mengerti mana orang yang tahu di saat kita  sedang dalam kesulitan.
Ya tadi di siang bolong yang panas, ak ditolong seorang kawan. Sebut saja mas Real Man. Saat itu ban sepeda motor aku bocor. Di siang yang panas usai liputan aku mau membawa si Supri ke bengkel terdekat. Tanpa dinyana si Real Man memberikan kunci motornya dan meminta kunci motorku.
Dalam hatiku, apa sih nih orang. Terus ak baru sadar dan menolak tawarannya. Tapi  rupanya dia  tetap memaksa meminta kunci motorku. Kemudian ia mengecek ban motorku apa masih bisa dikendarai. Ya sudahlah  Aku pun mengendarai motornya. Beruntung lokasi tambal ban motor tidak jauh. Dia membawa sepeda motorku ke tambal ban itu.
Ak langsung mengucapkan terima kasih kepadanya dan merasa tidak enak. Kan sebenarnya ak masih bisa bawa motorku sendiri ke bengkel. Tapi dia dengan wajah serius langsung menjawab, "biasa aja. Nggak apa-apa. Aku malah yang nggak enak kalo nggak bantu" katanya
Jeng..jeng., jeng..ak langsung kagum dengan orang yang selama kupikir nggak seru aka garing itu. Dia begitu spontan dan paham menempatkan posisinya sebagai seorang Real Man. Padahal di liputan tadi jg banyak kawan laki2. Duh emang tuh orang pendiem , lugu dan masuk kategori laki2 "alusan".  Bahkan lebih lembut dibanding ak kalau ngomong. *duh malunya  aku.
Tindakan spontan dia jg nyata terlihat waktu aku dan teman-teman karaoke bareng. Dia tiba2 order makanan dan minuman. Ketika akan pulang dia juga sudah membayar bill di kasir tanpa sepengetahuan  kami.
Spontanitas dan kepedulian dibalik karakternya yang pendiam baru kusadari tadi siang. Dia tak biasanya merangkul bahuku dari belakang samping dengan pergelangan tangannya. Dia merangkul bahuku sambil berjalan dan ngobrol  menanyakan lokasi acara. Saat ak mendahului teman2ku di belakang, dia melepaskan rangkulannya. Dia paham posisi dan situasi.
Dan malam ini aku baru menyadari kepeduliannya malam ini. Jangan pandang sebelah mata. Makasih kawan..

Yogya, 11/10/2015

6/05/2015

Evakuasi Ekstrim Pendaki di Gunung Merapi, Endro Bertaruh Nyawa Turun Naik Kawah


Meskipun tak turun langsung meliput evakuasi di Gunung Merapi karena posisi di Boyolali, saya bisa merasakan  jiwa heroik para tim penyelamat jenazah pendaki Erri Yunanto (21). Apalagi mereka yang harus turun ke kawah. Usai evakuasi selesai, saya berkesempatan meliput pengalaman salah seorang penyelemat dari SAR DIY yang turun ke kawah yakni Endro.Kebetulan kantor menugasi saya meliputnya. Berikut pengalaman Endro yang bertaruh nyawa menyelematkan korban jiwa. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi para pendaki.
Evakuasi Ekstrim Pendaki di Gunung Merapi
Endro Bertaruh Nyawa Turun Naik Kawah
RAUT muka Endro Sambodo (31) masih terlihat lelah saat ditemui di Kantor Search and Rescue (SAR) DIY Rabu (20/5) kemarin. Bibirnya terlihat pecah-pecah dan sesekali dia harus minum. Maklum saja selama tiga hari lalu anggota SAR DIY itu berada di kawasan Puncak Gunung Merapi. Bahkan ia berjibaku turun ke kawah Merapi bersama tim SAR Gabungan untuk menyelamatkan jenazah pendaki Erri Yunanto (21) yang terperosok.
"Maaf ya saya cepat haus. Ini efek tubuh kalau di gunung siang panas sekali, malam dingin. Kulit jadi pecah-pecah dan mengelupas. Kayaknya saya besok perlu spa dulu," tutur Endro sambil tersenyum membuka perbincangan di Kantor SAR DIY kemarin.
Sejak awal skenario penyelamatan, Endro yang memiliki nama Gembel di SAR itu, sudah diplotkan turun melakukan vertical rescue ke kawah. Dia menempati posisi kedua dari 5 recuer atau penyelamat  yang bertugas mengangkat jenazah dari kawah. Waktu ditunjuk dipikirannya hanya siap melaksanakan tugas mulia sebagai SAR walaupun berisiko. Rasa panik dan was-was ia tahan dan fokus pada penyelamatan.
"Tidak ada rasa deg-degan pas turun. Beruntungnya kondisi suhu di dasar kawah saat saya turun sama dengan suhu siang hari saat panas seperti ini. Nafas tidak berat. Kepekatan asap sulfatara normal. Bau belarang hampir tidak ada," terang  warga RT 04 , RW 33 Sermo, Sumberarum, Moyudan, Sleman itu.
Namun diakuinya suhu di kawah fluktuatif berkisar 30 sampai 50 derajat celsius. Menurutnya evakuasi jasad Erri adalah evakuasi ekstrim karena berada dalam situasi yang komplek. Apalagi ia kali pertama masuk ke kawah gunung. Banyak variabel yang perlu diperhitungkan sebelum tim penyelamat masuk ke kawah seperti suhu, jenis bebatuan labil, kandungan belerang dan asap sulfatara.
"Yang paling sulit itu medan lintasannya saat turun  ke kawah dan balik ke atas dan harus packing. Batuannya labil. Kena tali saja batu runtuh. Saya berkali-kali kejatuhan batu. Tapi pakai helm dan baju pelindung lengkap, sehingga aman," papar suami dari Adelia Puspitasari(25) itu.
Lantaran kondisi setiap detik bisa berubah ia dan tim penyelemat menggunakan momen itu untuk fokus menyelamatkan korban. Selain Gembel, ada Bakat Setiawan dari Barameru yang turun pertama memastikan situasi dan kondisi di kawah aman atau tidak untuk evakuasi. Sedangkan tiga penyelemat lain dari SAR DIY yakni Andri Susanto, Akhmad  Muhsin dan Rahmadiyono yang bertugas menarik jenazah dan dua rescuer yang turun.
Dia menilai koordinasi dan kekompakan tim dari berbagai pihak yang solid membantu evakausi berjalan lancar. Diakuinya sang istri sempat khawatir saat ia mengabarkan harus turun ke kawah. Namun niat dan ia meyakinkan ke istrinya untuk memberikan kepercayaan. Beruntung telepon selulernya mati, sehingga ia fokus mengevakuasi.
"Tapi kalau masuk ke kawah lagi saya tidak mau. Karena kondisinya tidak mungkin seberuntung seperti kemarin. Saat turun, suhu dalam kondisi normal. Saat kami naik, susu di kawah langsung tinggi," tambah Gembel yang masuk SAR DIY sejak tahun 2006 itu.
Tidak heran dia tunjuk sebagai penyelemat karena dia telah mengantongi sertifikat internasional rescue vertikal dan emergency first responder tingkat internasional. Tim rescue yang turun juga harus memiliki mental dan hati yang kuat.
"Saya senang dengan kegiatan berkaitan dengan alam seperti naik gunung, menyelam dan hutan. Dari situ saya terus meningkatkan kemampuan," kata Endro yang juga bekerja sebagai Tim Reaksi Cepat BPBD DIY itu.
Dia berpesan kepada para pendaki untuk mematuhi aturan dan menghormati alam. Pendakian di Gunung Merapi hanya sampai Pasae Bubrah. Diakuinya banyak pendaki yang mengabaikan aturam sehingga terjadi hal-hal yang tak diinginkan.(Tri)
TRI DARMIYATI
Endro Sambodo, salah satu anggota SAR DIY yang  turun ke kawah Merapi mengevakuasi jenazah Erri Yunanto.

3/12/2015

Belajar Tega

Sial kenapa sejak dua hari ini aku kurang konsentrasi. Apa karena tuh orang lagi. Aku jadi berpikir kenapa sekitar dua minggu lalu dia mencoba menghubungiku lagi. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya. Semua kontak sudah aku hilangkan dan block. Tapi sial aku kelupaan memblock kontaknya di WA.
Dia kembali menghantui dan menteror kehidupanku yang sudah cukup nyaman tanpa ada dirinya. Dan hal yang paling menyebalkan adalah dia kembali mempertanyakan kesalahannya di masa lalu. *Helooo itu sudah lewat. Sudah selesai. Kenapa masih coba dibuka lagi.
Aku memilih berusaha menjaga jarak dengannya karena aku tidak mau lagi menjadi korban fitnah seperti dulu. Rasa sakit yang dulu masih sedikit tersisa. Tapi kenapa dia muncul lagi.
Namun dua hari lalu aku menyimpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Aku sudah menduga, pasti kisahnya berakhir dan ia mencoba mencariku dan meminta maaf kembali. Aku cukup mengenal karakternya karena hubungan pertemanan cukup dekat sejak 3 tahun lalu. Ternyata kabar burung tentangnya pun sudah beredar.
Aku memintanya untuk tidak mengganggu lagi. Dia memintaku agar tidak menghindarinya ketika bertemu. Tapi aku masih belum bisa melihatnya bahkan berbicara seperti dulu. Meskipun dia memohon satu permintaan terakhirnya agar dia bisa bersahabat denganku seperti dulu. Tapi aku menolaknya dan sampai sekarang  belum bisa berteman seakrab seperti dulu dengannya. Aku harus tega meski ada yang tersakiti demi menjaga dariku dari fitnah.
Siang pun aku dia sesekali terngiang di kepalaku. Dan sial saat pulang kerja, aka berpapasan dengannya di jalan. Dia berjaket biru mengendarai motor ke arah timur. Aku mengendarai motor ke arah barat. Aku mencoba menutup helm. Sepertinya dia melihatku karena aku mengenakan jaket merah menyala yang biasa kupakai. Sekilas melihatnya sebenarnya aku tidak tega. Dia terlihat lesu nggak ada semangat.
Ayolah tri kamu harus tega. Sesekali belajar tega agar dia bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya hanya karena buta asmara. Menyeret orang lain menjadi korban fitnah dalam masalahnya. Seperti kataku ke dia, mari jalani hidup kita masing-masing. Aku tidak mengganggu kamu, dan kamu tidak mengganggu aku. Jadi buat sesimple itu saja.

Kotagede, 12 Maret 2015

7/30/2014

Jangan tanya lagi ya bu..

Bagaikan petir di siang bolong yang cerah rasanya. Pertanyaan itu kembali terlontar dari ibu. Singkat-singkat tapi seketika langsung membuyarkan konsentrasiku mengetik berita. 
"Apa kabar cah sumatra? Cah yg dulu kos di gedongkuning? Apa masih kerja di Solo." Bertubi-tubi  pertanyaan itu dari ibu. 
Pertanyaan yg selalu kuharap tak keluar dari ibu setiap libur lebaran tiba. Ak memang tak melihat ekspresi muka ibu saat ia bertanya karena kami di ruangan yang berbeda. Aku mengetik di depan laptop di ruang tamu dan ibu di ruang tengah. Namun dari nada suaranya terasa ibu mengharap kedatangannya lagi. Mempertegas bagaimana perkembangan hubungan kami dulu.
Sembari mengetik aku jawab sekenanya. "Mungkin masih kerja di Solo bu," jawabku sambil lalu. 
Entahlah ibu mendengar jawabanku atau tidak karena kakakku tetiba berbicara dengan ibu. Namun ibu tak merespon lagi atas jawabanku tadi. Fiuhh syukurlah.. 
Sebenarnya aku sudah malas menjawab pertanyaan serupa tentang itu setiap libur lebaran. Tapi pasti ibu masih terkenang dengan lelaki asal Lampung, teman dekatku dulu yang selalu datang ke rumah tiap lebaran. Hanya sejak 3 atau 4 tahun lalu(aku rada lupa) dia tak datang lagi.  
Ceritaku dan dia sudah usai bu. Sebenarnya kalimat itu yang seharusnya kuberikan sebagai jawaban untuk pertanyaan ibu. Namun kupikir tak ingin lagi ada pertanyaan tambahan lain dari ibu jika kujawab seperti itu. Pasti ibu akan menjawab "jangan milih2" bla...bla..bla.. 
Ak sudah capek denganya. Orang satu2nya yang bs membuatku mengerem ambisi, menaklukkam emosi dan kupercayai. Laki-laki dewasa yang kuizinkan mengelus kepalaku dan menyentuh tanganku karena bisa menenangkanku. Ahh sudahlah.. Dia sudah bahagia di sana. Salahku yang dulu mudah menyerah karena tak ingin ada masalah dengan ibunya yang masih mengekang garis keturunan dari tanah kelahirannya.  
Tak harus memiliki memang menyakitkan, tapi itu kenyataan. Namun cerita lalu itu, masih menyisakan kehati-hatianku untuk kembali membuka hati. Dear heart, I'm sorry you have to be patient. Just forwad n enjoy story from Allah. I believe whatever happen in the end is the best for me
Wake up, stand up n don't give up :-) 


4/19/2014

Mengejar Matahari Terbit di Bukit Si Kunir


Foto -TRI DARMIYATI
Pemandangan matahari terbit di antara jajaran puncak Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Ungaran di Bukit Si Kunir Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.


 <B>MESKIPUN<P> waktu masih menunjukkan pukul 04.00 wib tapi perbukitan di kawasan Dieng Wonosobo Jawa Tengah itu sudah ramai dengan wisatawan. Berbekal nyala senter dan jaket tebal perjalanan mendaki dimulai. Udara tipis dan dingin yang menusuk kulit membuat nafas mudah tersengal. Sesekali nyanyian penyemangat, salam serta ucapan hati-hati antar rombongan mengiringi perjalanan.
Namun semua rasa lelah itu terbayar saat mencapai puncak. Pemandangan puncak Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing berjajar disinari mentari yang perlahan muncul. Sebagian awan tipis masih terlihat menggantung di antara puncak gunung. Pemandangan semesta dan pegunungan pun membuat terkesima wisatawan karena keindahan di atas Bukit Si Kunir.
Ya Bukit Si Kunir adalah satu bukit yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut. Bukit di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo ini atau desa tertinggi di Pulau Jawa ini adalah salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit.
Jarak pendakian pun tidak terlalu jauh karena puncak dapat dicapai dalam waktu sekitar 45 menit. Namun tetap harus berhati-hati karena jalan setapak cukup terjal dengan sebagian tepi jalan adalah jurang. Ada dua jalur pendakian di Bukit Si Kunir. Satu jalur pendek dan satu jalur lain yang lebih tinggi.
Sembari menikmati pemadangan pengunjung juga dapat beristirahat menikmati udara segar. Beberapa pedagang minuman panas dan kentang goreng sudah menanti di puncak si Kunir. Lelah dan cuaca dingin di lokasi memang mudah lapar. Ini juga jadi energi untuk perlajanan turun bukit.
Tidak hanya saat terbit matahari, pemandangan perbukitan hijau yang mengelilingi Si Kunir juga apik. Tak heran wisatawan selalu mengabadikannya dengan kamera. Turun dari Bukit Si Kunir, pengunjung akan disambut dengan Telaga Cebong. Air telaga yang terlihat hijau dan dikelilingi persawahan terasering sayuran serta pohon carica terasa menyejukkan.
Di dekat Telaga Cebong terdapat tempat pemberhentian dan parkir kendaraan para pengunjung. Lokasi ini juga menjadi awal mula pendakian. Biaya masuk pendakian Bukit Si Kunir hanya Rp 2.000 per orang.
Pendakian di Bukit Si Kunir yang tidak terlalu jauh, cocok bagi pendaki pemula. Namun tetap harus dipersiapkan kondisi fisik sebelum mendaki dengan latihan fisik olahraga sebelum berangkat. Ini agar tubuh tidak kaget saat mendaki dengan udara dingin waktu dini hari. Wisata ini juga sangat cocok bagi Anda yang suka petualangan.
“Saya suka alam dan fotografi jadi nggak ngebosenin ke Bukit Si Kunir. Apalagi <I>sunrise<P> di Si Kunir adalah salah satu yang terindah,” tutur Handito salah satu wisatawan yang sudah empat kali mendaki Bukit Si Kunir itu belum lama ini.
Perjalanan menuju Si Kunir dari Yogyakarta dapat ditempuh sekitar 4 jam dari Yogyakarta. Untuk perjalanan di malam hari dianjurkan menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada kendaraan umum yang menuju Bukit Si Kunir. Namun jika tidak ingin repot bisa juga datang di siang hari dan menginap di home stay atau rumah penduduk setempat. Baru pada dini hari mendaki ke puncak Si Kunir.
Untuk perjalanan kendaraan umum dari Yogyakarta bisa menggunakan bus Semarang dan turun di Magelang. Kemudian pindah bus jurusan Wonosobo. Tiba di Wonosobo gunakan angkot ke kota dan bus jurusan Dieng. Sedangkan untuk menuju si Kunir ada jasa ojek. Siap bertualang, mari mengejar matahari.<B>(Tri)<P>