6/28/2011

Mujiran Diujung Maut Banjir Lahar



MUJIRAN (39) warga Karanglo Argomulyo Cangkringan Sleman tak menyangka sore itu nyawanya sudah diujung maut banjir lahar dingin. Namun berkat pohon nangka yang ia panjat selama setengah jam lebih, nyawanya selamat dari luapan banjir lahar di Kali Gendol.
Sekitar pukul 16.00 wib, Mujiran diberi tugas dukuhnya menjaga backhoe normalisasi di sepanjang Kali Gendol di wilayahnya. Dalam kondisi hujan deras ia mengendarai motor untuk menghalau petugas backhoe turun. Dia berhenti di atas dam Jetis Argomulyo Cangkringan, kemudian menghalau petugas yang mengoperasikan backhoe untuk berhenti dan turun.
“Setelah turun dari atas dam, tiba-tiba aliran deras dari Kali Gendol sudah berbelok dan menghantam saya. Suasana terlihat gelap karena asap dari lahar dingin. Untungnya saya terlempar di sebuah pohon melinjo dan saya menapaki batu besar berpindah ke pohon nangka,” urai Mujiran saat berbincang dengan Merapi Minggu (9/1) di lokasi kejadian.
Saat itu Mujiran panik, motornya terlempar hingga 20 meter lebih dari tempat semula. Dia hanya bisa pasrah dan berpegang kuat memanjat pohon nangka. Sering kali pohon nangka bergoyang keras terkena material batu besar. Suami Triasih itu hanya bisa berdoa dan berteriak minta tolong di atas pohon yang satu meter di bawahnya aliran lahar dingin mengepul asap panas.
“Saya kontak pakai HT dan hanphone tapi tidak ada yang nyambung. Setelah berteriak minta tolong sekitar setengah jam, sampai suara saya serak baru ada warga yang menolong,” terang pekerja buruh bangunan itu.
Setelah banjir lahar dingin cukup surut atau sekitar setengah jam lebih tertahan di atas pohon nangka, bapak dua anak ini baru turun. Dia bersyukur masih diberi keselamatan dari peritiwa yang berlangsung cukup cepat itu. Namun ia harus kehilangan motor satu-satunya kendaraan berharganya. Dia masih bingung dan belum tahu perbaikan motor akan dibayar dengan uang apa. Mengingat pekerjaanya hanya serabutan buruk kuli bangunan.
“Saya pasrah, yang penting nyawa saya selamat. Saat ini motor masih dibengkel karena rusak parah,” pungkasnya. (Tri)

Foto : Mujiran menunjukkan pohon nangka yang ia panjat dan menyelamatkannya dari luapan banjir lahar dingin.

Dimuat di Koran Merapi Pembaruan 10 Januri 2011

6/23/2011

Hindari Gendam, Tepuk Balik Sentuhan Penggendam

Gendam selalu diidentikan dengan hipnotis. Namun sesungguhnya gendam dan hipnosis (ilmu hipnotis) memiliki perbedaan tipis. Gendam dan hipnosis sama-sama mempengaruhi pikiran orang untuk tujuan tertentu.
Gendam kebanyakan dilakukan untuk tindak kejahatan. Namun masyarakat tak perlu panik, ada sejumlah antisipas si yang bisa dilakukan.
Menurut salah seorang mantan pelaku gendam Ag (35) (bukan nama sebenarnya)yang tinggal di Yogyakarta, gendam dilakukan dengan mempengaruhi pikiran korban melalui sentuhan fisik. Sentuhan fisik seperti dengan tepukan di salah satu bagian tubuh korban.
“Cukup sekali sentuh, orang akan menuruti apa yang diperintahkan pengendam. Selang beberapa menit, orang tersebut baru sadar. Gendam tidak bisa dilakukan dengan perantara media telepon atau sms,” kata Ag saat berbincang dengan Merapi baru-baru ini.
Ag yang sekarang berprofesi sebagai hipnoterapi menjelaskan, gendam dan hipnotis sama-sama bertujuan mempengaruhi pikiran seseorang untuk melakukan sesuatu. Perbedaannya hipnotis memerlukan kesepakatan dari orang yang bersangkutan dan pada gendam tidak perlu ada kesepakatan tersebut. Ilmu gendam juga membutuhkan unsur magis untuk melakukan aksinya sedangkan hipnotis tidak.
“Dulu saya harus menjalani puasa 40 hari dan sejumlah ritual klenik. Tubuhjuga diisi dengan kekuatan magik. Setelah itu ilmu gendam sudah bisa digunakan. Kalau hipnosis itu murni pengaruh pikiran,” ujarnya.
Sejumlahantisipasi yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghindari gendam antara lain pikiran jangan terlalu fokus pada sesuatu, suka murung dan pikiran kemana-mana. Saat-saat seperti itu, menurut Ag, gendam mudah masuk.
“Pikiran yang terlalu fokus misalnya membaca buku atau bersms denganhandphone. Cara lain untuk menghindarinya, bisa dengan reflek menepuk balik orang tersebut yang dicurigai penggendam,” tandasnya.(Tri)

Dimuat di Koran Merapi Pembaruan Yogyakarta Minggu 3 Oktober 2010