4/11/2011

What 24???



Hemm, berkurang lagi jatah umurku tahun ini. entah kenapa angka 24 yang kudapat di tahun ini berbeda dengan angka-angka tahun-tahun lalu. Kayakanya baru kemarin sore rasanya aku masih SMA (gak ding, yang ini lebai banget. He,,he). Maksudnya kayaknya baru kemarin umurku masih dua puluh, masih punya banyak waktu buat main-main. Gak terasa aja ya,,well that’s life. Aku harus melalui roda kehidupan ini sampai “kontrak” hidupku di dunia , habis.
Anyway, bagiku angka 24 adalah perpaduan unik tapi jauh dari namaku. Angka 4 didapat dari perpaduan angka pertama yang dijumlah.. trus 4 dikurangi 2 hasilnya tetap 2. (Hem, kalau itu jelas banget yak, he.he.) . Tapi sayang tidak ada angka 3 yang menunjukkan namaku.
Umumnya 24 seorang mahasiswa sudah menamatkan kuliahnya, ,, (ngaku pasrah deh , sdang berproses nih). bahkan ibuku 24 sudah menikah. Belum nulis buku, belum backpacker ke Raja Ampat, Belitung, Jepang, ke AS atau ke Sorbone, belum ketemu langsung doraemon, Jackie chan, blum bla,..bla..bla,,,,(ngiimpiii tri, biar deh mimpi besar, gratis ini)
Hem, manusia nurutin gak ada habisnya., tapi kalau mimpi positif it’s ok, motivasil-lah. Tak banyak ini itu yang ak INGINkan. Cuma melihat perjalanan hidupku di ke 24 ini hal penting dan sederhana apa yang belum kulakukan, dan yang belum kuberikan.
Yang belum saya lakukan, belum ningkatin ibadah, menyenangkan orangtua sepenuhnya, karena kadang masih gak nurut dan belum selesai tanggung jawab ilmiah, kadang silang pendapat, olah raga teratur, rutin bangun pagi, ngembaliiin barang2 di rumah pada tempatnya, belum disiplin waktu buat ngerjain tugas masa depan.
belum nemenin tidur di rumah kakek yang skrang sendirian aja, belum bisa menghadiri undangan pengjian undangan teman remaja masjid, belum nurutin permintaan ngajarin nulis teman, rutin makan 3 kali sehari, periksa gigi lagi padhal udah hbis antibiotik, belum rutin nulis blog…,lupa menyapa dulu teman2 lama di fb,.. lupa ngucapin maksih sama tukang parkir,.
So pastinya banyak kesalahan yang kuperbuat, bodohnya ak pernah sengaja melakukan kesalahan biar lepas dari tubi-tubian “tugas” yang tak kunjung habisnya, kupikir kok g adil,, ada orang lain yg lebih “free” knpa aku. Tapi yap…menyesal slalu datang di akhir. Pasti ada hikmah yang kutrima kelak dengan “tugas2” itu. Biarlah ketidakadilan dari sudut pandangku, bisa membuatku bersikap adil, toh itu tempaan yang harusnya membuatku bisa lebih fight buat ke depan.
What next.. ya jelas Insya Allah melakukan yang belum kukerjakan, menyelesaikan apa yang sudah kumulai dan melakukan lebih baik lagi yang sudah kulakukan tiap hari. Banyak kurangnya deh, apa yang belum kulakukan dan berikan ke orang banyak,
Kata banyak kawan harus mengutamakan skala prioritas. Teori sih aku tau, prakteknya,, hem ngejalaninya sulit juga. Tapi aku akan dan harus berusaha melakukannya. Mohon bantuannya ya..
Di 24 tahun ini ibuku bilang,, “semoga cita-citaku tercapai,sehat dan mendapat pendamping hidup yang soleh,” katanya seraya bilang di hari ultahku belum sempat “nyayang” aku.
Kalau bapakku sih biasa tak banyak bicara. Tapi sekali bicara “nyeleneh” bikin gondok dan kadang ketawan. Tapi dari guratan wajah bapak yang sudah membesarkan aku sampai kebesaran sekarang, diamnya beliau bagiku sudah “berbicara”. karena dia percaya aku sudah dianggap dewasa mana pilihan hidup dan konsekuensi serta resiko yang kuterima.
Buat kakak-kakaku tercinta. Buat my sister, terimkasih banyak untuk kejutan kecil di pagi hari di ultahku. Maaf ak sudah banyak merepotkanmu. Insya Allah aku nurut deh, berusaha bangun pagi .
Buat semua sahabat, kawan, teman-teman dan kenalan yang mengisi keseharianku terimakasih sudah membuat hidupku di 24 tahun ini lebih berwarna dan berkaca, ayo kejar mimpi kita.

3/01/2011

dilema...

Hampir dua tahun saya kuliah sambil bergelut di dunia jurnalistik media cetak harian. Saya memang menyukai dunia ini sejak sma. Beruntung detik ini saya masih bisa merasakannya. Ya itulah idealisme saya bisa mengabarkan informasi dan mengontrol publik mengenal semua orang dari berbagai kalangan. Dampaknya luar biasa bagi hidup bisa melihat sesuatu dari berbagai sisi sudut pandang.
yah, tapi beberapa bulan ini saya juga tersudutkan dengan pikiran studi kuliah saya yang terbengkalai. Orangtua saya,juga tidak menuntut saya harus bisa lulus kuliah tepat waktu ketika saya memutuskan kuliah dan bekerja di media. Bagi saya mereka cukup demokratis dengan menyerahkan segala keputsan dan resiko pada plihan saya. Mungkin mereka mengingat slama ini saya kuliah dengan biaya sendiri. Tapi, saya nggak maua main2 tiga tahun saya harus lulus jangan gagal.
Lingkungan di media dan teman2 di lapangan cukup membuat saya tertawa riuh dengan senda gurau tak bermutu. momen paling mengasyikan dan menegangkan bagi saya saat meliput bencana merapi. Namun saya selalu terngiang, kuliah yang belum selesai-selesai,
oh my Good ini dilema berat bagi saya. Terus terang, saya sulit mengatur waktu untuk keduanya. belum lagi ada tugas tambahan untuk liputan khusus tiap minggu. kalender hitam bagi saya.Pulang ke rumah malam, badan udah capek nggak kuat buat mikir di depan laptop dan tumpukan kajian pustaka.
Saya harus putuskan saya harus putuskan satu keputusan jangan sampai gagal demi masa depan kuliah dan biar otak gak pecah mikir dua hal berat dalam satu badan. Seandainya saja ada mesin fotokopi badan atau disahkan kloning manusia di indonesia kemungkinan besar akan saya lakukan. sayang tidak ada.desprate-nya,,
mlama ini rencan saya akan menyatakan keputusan itu, tapi nuansa dan suasana juga belum kondusif. apalagi orang nomer satu di redaksi sedang sakit. tak sampai hati saya bilang keputusan saya. apalagi selama ini mereka memberi kesempatan belajar dan mau menerima saya meski saya masih berstatus mahasiswa semester 4.
Oh good. sepertinya saya harus menghadapMu di sepertiga malam untuk menentukan putusan yang terbaik buat semuanya.
Ya Allah Mudahkanlah dan lancarkanlah jalan hidupku semuanya atas rida demi menuju JalanMU. berikan putusan pilhan yang terbaik bagi semuanya. amin,

12/26/2010

.....kosong......




Aku tak tahu. Rasanya hidupku tak lengkap. Dia yang ada di hatiku tak mungkin kumiliki. Lagi pula aku juga meragu, apa aku bisa berkomitmen dengannya dalam sebuah mahligai kehidupan. Aku takut mengecewakannya, bila pada saatnya nanti aku tidak bisa menerima keadaanya. Cintanya dengan mantan pacarnya begitu kuat, kendati harus kandas. Aku yakin dia dulu pernah ada rasa ke aku. Kalau tidak kenpa dia pernah memegang tanganku dan memelukku dengan tatapan penuh arti dari hati. Bahkan mencoba menyatakan cinta walau sambil bercanda. Kebersamaan aku dan dia sudah hampir empat tahun. Tapi what ever lah, krna cintanya begitu kuat, aku mundur teratur mengelak perasaanku sendiri. Dari pada aku sakit hati. Meskipun dia selalu maju dan hadir di kehidupanku dengan sikap manisnya yang slalu bisa meluluhkan hatiku. Aku tak ingin terjebak dengan perasaan ini. Hanya saja selama ini aku belum mnemukan sosok yang kucari seperti dirinya. Semuanya yang kucari ada di dirinya, namun tak bisa kudapatkan. Dia hadir dan nyata dalam mataku, tapi hanya bayang semu terasa. Terlihat dari mata hati dan berisi namun sejatinya kosong..

Satu jam percakapan kenangan



Sore tadi ia mengirim sms memintaku menemuinya. Tapi hari ini aku malas beranjak dari rumah. Karena masih menanggung cucian dan ingin menghabiskan libur sabtu di rumah.
Aku pun memutuskan tak bisa menemuinya di kosnya. Aku sudah capek. Hanya beberapa sms kukirim padanya.
Selang satu jam kau memintaku menemanimu makan. Aku mau menemanimu asal kau jemput. Hanya menemanimu bicara dengan segelas minuman, karena aku sudah makan. Lima belas menit kemudian, hpku berbunyi. Rupanya dia sudah di depan rumah dengan sepeda motornya. Aku sudah siap dengan jaket hangat, tapi kau berkata "kok jadi males ya, keluar makan. Aku cuma pengin ngobrol kok," katamu.
Ok g pa2 pas aku jg lagi malas keluar. Aku mengajaknya ngobrol di beranda rumah. Untung ibu dan bapak lagi nginep di rumah eyang. Aman jd ibu g bakal tanya kabarnya lagi.
Percakapan malam itu cukup beragam. Terutama membicarakan masalah kerjaan dan kenangan. Cerita lagu lama perlakuan ibunya ke mantan pacarnya. Mungkin sepenggal kalimatku menjadi poin penilaianmu. "mungkin aku akan bersikap seperti mantan pacarmu jika ibumu tidak merestui hubunganmu. Karena pasti berat melawan cinta itu, sebab aku bukan termasuk orang yang berjuang mati-matian untuk memiliki orang yang kita saying.
Kaupun hanya tersenyum dan kembali ke cerita cinta kandasmu.
Well aku nggak nyangka akan mengatakannya. Dia hanya bilang berkomitmen itu susah. Kita harus benar-benar berpikir dan yakin apa yang dikatakan dan konsekuensi apa yang didapat sebelum berkomitmen menjalin hubungan.
Aku pun mengamini dia dan berkata, itu sebabnya aku belum berkomitmen.,karena aku takut, apa aku bisa menerima konsekuensi yang ada dengan ikhlas. Termasuk menerima dirinya. Aku tak berani berkata "ya aku menerima komitmenmu" atau tidak menerimanya dan tidak berkomunikasi. Sebab aku ragu dan takut, apa aku bisa memenuhi komitmen dan menerima dia apa adanya. Aku tak sampai hati membuatmu terluka lagi. Cukup mantan pacarnya saja...

9/02/2010

Berikan yang terbaik

Sore tadi, aku melihatmu berbaring di ranjang putih. Sejumlah selang terhubung masuk di mulut, hidung , pinggang dan nadi tanganmu. Perban putih tertempel di dahimu. Beberapa ujung jari-jarimu tampak membiru. Sesekali kepalamu mengejang diikuti tubuh.Dua tanganmu tetap memegang erat tepi ranjang. Kamu sudah bsa bergerak, tapi masih tak sadarkan diri. Dan aku hanya terpaku melihatmu di balik kaca ruang icu/
Tiba-tiba saja, aku teringat masa lalu. Waktu itu kita masih duduk di bangku SD. sepulang sekolah atau hari minggu dan libur, kamu diantar bulek ke rumahku. Kita main bareng, paling sering main kartu remi atau monopoli. kamu masih bisa tertawa dan kadang berlari-lari.
Entah beberapa tahun ini, semenjak kita menginjak usia SMA dan kuliah, kita jadi jarang ketemu. Padahal jelas rumah kita tak jauh hanya terpisah jalan raya. namun aktivitas kita masing-masing yang memisahkan kita.
Itu dulu, tapi kini, kau lemah di sana. Aku tidak tau , apa kamu masih ingat saat kecil kita bermain bersama? Tiga hari lalu, kecelakaan maut menimpamu dan sekarang kau terbaring di ranjang putih ditemani ayahmu sekaligus pak likku. Beberapa teman kuliahmu dan pemuda pemudi kampung juga datang silih berganti. Kerabat pun demikian.
Kami semua mendoakan mu dik. Berdoa agar Allah memberikan jalan yang terbaik...agar kamu bisa sadar kembali. Ya Allah berikan kekuatan pada adik sepupuku, teman kecil agar sadar dari koma-nya. amin