1/16/2012
sawah bertahan dalam himpitan beton
http://krjogja.com/liputan-khusus/khusus/1468/areal-sawah-di-diy-tergerus-beton-industri.kr
12/23/2011
Berfacebook Buat Remaja Mudah Kepincut
YOGYA(MERAPI)- Banyaknya remaja dan anak putri yang hilang dan menjadi korban pemerkosaan setelah berkomunikasi dengan teman di situs jejaring sosial adalah salah satu kurangnya kontrol diri. Remaja memiliki hormon yang masih bergejolak sehingga membuatnya kurang mampu mengontrol diri dan memanfaatkan Facebook dengan baik.
Demikian dikemukakan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta Dra S. Hafsah Budi A Spsi Msi. Dia menjelaskan, awalnya Facebook sebagai situs untuk silaturahmi dan menjalin komunikasi dengan teman lama dan baru. Dalam perkembangannya Facebook telah menjadi gaya hidup di kalangan remaja yang haus akan eksistensi diri untuk diakui masyarakat. Sehingga jika tidak bergabung dan mengaksesnya dianggap tidak gaul.
“Saat menggunakan Facebook dalam jangka lama akan membuat ketergantungan dan pengguna akan larut. Orang dewasa saja bisa larut. Apalagi remaja yang memiliki gejolak hormon tinggi dan anak-anak yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Jadi mudah terpengaruh,” kata Dra S Hafsah kepada Merapi di kantornya Rabu (17/2).
Dia menambahkan, komunikasi di Facebook dalam perkembangannya muncul keisengan. Keisengan inilah yang menjadi peluang tindakan merugikan. Pada dasarnya dampak yang ditimbulkan dari mengakses Facebook dan mengakses gambar porno di internet sama. Justru di Facebook komunikasi intensif lebih bisa terjalin.
“Sapaan dan empati secara intens antara remaja dengan teman yang dikenal di Facebook, membuat semakin akrab dan mudah diajak untuk bertemu dan pergi bersama. Padahal perlu diwaspadai, karakter orang di Facebook tidak selalu benar. Artinya bisa saja menipu, karena ekspresi wajah saat berkomunikasi di Facebook tidak terlihat,” terang Konsuler masalah perempuan dan anak lembaga kosultasi Psikologi Rekso Diah Utami itu yang belum lama ini menangani anak SD korban Facebook.
Menurut Hafsah untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan peranan dari berbagai pihak. Orangtua yang paling utama. Pendampingan penggunaan internet dan akses Facebook adalah yang utama. Sebaiknya orangtua memberi kegiatan yang mengandung tiga hal yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Para remaja juga harus memastikan identitas dan kebenaran teman yang dikenal di Facebook sebelum diajak bertemu.
“Sebaiknya orangtua juga jangan memberi handphone untuk anak usia SD. Apalagi yang berfaslitas internet. Sebab anak akan lebih mudah dan lebih bebas mengakses situs porno dan Facebook dengan orang asing. Peranan terbesar seharusnya dari pemerintah untuk melindungi pengguna internet atau teknologi lain bagi para penggunanya, khususnya di kalangan anak-anak,” pungkas Hafsah.(Tri)
Demikian dikemukakan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta Dra S. Hafsah Budi A Spsi Msi. Dia menjelaskan, awalnya Facebook sebagai situs untuk silaturahmi dan menjalin komunikasi dengan teman lama dan baru. Dalam perkembangannya Facebook telah menjadi gaya hidup di kalangan remaja yang haus akan eksistensi diri untuk diakui masyarakat. Sehingga jika tidak bergabung dan mengaksesnya dianggap tidak gaul.
“Saat menggunakan Facebook dalam jangka lama akan membuat ketergantungan dan pengguna akan larut. Orang dewasa saja bisa larut. Apalagi remaja yang memiliki gejolak hormon tinggi dan anak-anak yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Jadi mudah terpengaruh,” kata Dra S Hafsah kepada Merapi di kantornya Rabu (17/2).
Dia menambahkan, komunikasi di Facebook dalam perkembangannya muncul keisengan. Keisengan inilah yang menjadi peluang tindakan merugikan. Pada dasarnya dampak yang ditimbulkan dari mengakses Facebook dan mengakses gambar porno di internet sama. Justru di Facebook komunikasi intensif lebih bisa terjalin.
“Sapaan dan empati secara intens antara remaja dengan teman yang dikenal di Facebook, membuat semakin akrab dan mudah diajak untuk bertemu dan pergi bersama. Padahal perlu diwaspadai, karakter orang di Facebook tidak selalu benar. Artinya bisa saja menipu, karena ekspresi wajah saat berkomunikasi di Facebook tidak terlihat,” terang Konsuler masalah perempuan dan anak lembaga kosultasi Psikologi Rekso Diah Utami itu yang belum lama ini menangani anak SD korban Facebook.
Menurut Hafsah untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan peranan dari berbagai pihak. Orangtua yang paling utama. Pendampingan penggunaan internet dan akses Facebook adalah yang utama. Sebaiknya orangtua memberi kegiatan yang mengandung tiga hal yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Para remaja juga harus memastikan identitas dan kebenaran teman yang dikenal di Facebook sebelum diajak bertemu.
“Sebaiknya orangtua juga jangan memberi handphone untuk anak usia SD. Apalagi yang berfaslitas internet. Sebab anak akan lebih mudah dan lebih bebas mengakses situs porno dan Facebook dengan orang asing. Peranan terbesar seharusnya dari pemerintah untuk melindungi pengguna internet atau teknologi lain bagi para penggunanya, khususnya di kalangan anak-anak,” pungkas Hafsah.(Tri)
Pernah dimuat di Koran Merapi Pembaruan
11/30/2011
Goodbye November, Goodbye Shadow(man)

Sudah saatnya saya harus menutup kisah chapter 1 ini. Ya jawaban terang benderang sudah kudapatkan hari ini. Pagi tadi dia memberi kabar, desember ini akan melangsungkan akad nikah dengan calonnya.
Pesan itu saya baca seperti biasa. Tak ada rasa nyeseg ataupun tetesan air mata. Bahkan saya baru sempat membalasnya malam hari. Bukan karena sensi tapi karena agenda hari ini yang padat. Biasa saja dan nothing special.. justru saya merasa senang mendengarnya. Tanda dia masih menjaga hubungan sebagai kawan yang harus diberi kabar bahagia. Akhirnya ia bisa meraihnya setelah melihat perjalanan hidupnya.
Bukan hanya itu saja, bagi saya bayangannya yang selama ini kadang muncul dengan tiba-tiba sms dan telpon darinya tidak ada lagi. It’s mean saya bisa menatap masa depan dengan tenang tanpa ada bayang-bayangnya lagi.
Kami memang punya cerita cinta, ceria, semangat, sedih dan perjuangan bersama di masa lalu. Semuanya masih tersimpan dalam kenangan pada bintang yang kami bawa masing-masing. Bintang yang menjadi simbol dekat di saat jauh karena kami bisa sama-sama melihatnya meski di tempat jauh dan berbeda.
Bintang itu masih kami simpan masing-masing. Kini bintang ini menjadi tanda kami tetap berhubungan sebagai kawan. Memang inilah skenario Allah, yang harus saya terima dengan ikhlas. Saya percaya ini yang terbaik buat saya dan dia. Semoga dia bahagia dengan pilihannya dan semoga saya mendapat bintang jatuh di saat yang tepat , karena semua akan indah pada waktunya,
Di malam akhir bulan November ini mari teriakkan Godbye November and Godbye Shadow (man)…
8/13/2011
Berkah Lebaran dari Koran Bekas
SUDAH tiga kali Lebaran Idul Fitri ini, Hendra Falsafah (20) selalu sibuk seusai salat ied di lapangan Alun-Alun Utara. Ribuan lembaran kertas koran bekas yang digunakan sebagian besar peserta salat telah menanti untuk diambilnya. Banyak warga yang meninggalkanya dan membiarkannya menjadi sampah. Namun demikian, sampah-sampah koran bekas itu menjadi berkah bagi Hendra dan sejumlah kawannya.
“Ini Lebaran yang ketiga, saya menjadi pemungut koran bekas. Hasilnya lumayan buat biaya hidup dan tambah biaya kuliah,” kata Hendra kepada Merapi
di sela-sela ia memungut koran bekas di Alun-Alun Utara Jumat (10/9).
Kendati berstatus mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Alma Ata, namun ia tak malu melakukan kegiatan tersebut. Kehidupan di perantauan dengan biaya hidup yang tak sedikit, membuatnya tidak ingin membebankan semua biaya ke orangtuanya. Maka ia pun rela tiga kali Lebaran ini tak mudik ke kampung halamannya di Jawa Timur dan memanfaatkannya untuk memungut kertas koran bekas sebagai tambahan biaya hidup.
Setiap Lebaran Hendra mampu mengumpulkan sekitar 600an kg koran bekas. Ia tak perlu repot mencari penadah pembeli kertasnya, karena sudah banyak penadah rongsokan yang menanti. Setiap kilogram kertas koran bekas tersebut ia jual Rp 1000an.
“Alhamdulilah setiap Lebaran rata-rata bisa mengumpulkan Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribuan,” ujarnya.
Menurutnya, setiap tahun saat Lebaran jumlah orang yang mengambil koran di alun-alun utara bertambah. Mereka ada yang berkelompok atau sendiri. Meski jumlah pengambil koran bekas bertambah, namun tidak sampai mengurangi penghasilan Hendra dan pengambil koran bekas lainnya. (Tri)
Kendati berstatus mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Alma Ata, namun ia tak malu melakukan kegiatan tersebut. Kehidupan di perantauan dengan biaya hidup yang tak sedikit, membuatnya tidak ingin membebankan semua biaya ke orangtuanya. Maka ia pun rela tiga kali Lebaran ini tak mudik ke kampung halamannya di Jawa Timur dan memanfaatkannya untuk memungut kertas koran bekas sebagai tambahan biaya hidup.
Setiap Lebaran Hendra mampu mengumpulkan sekitar 600an kg koran bekas. Ia tak perlu repot mencari penadah pembeli kertasnya, karena sudah banyak penadah rongsokan yang menanti. Setiap kilogram kertas koran bekas tersebut ia jual Rp 1000an.
“Alhamdulilah setiap Lebaran rata-rata bisa mengumpulkan Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribuan,” ujarnya.
Menurutnya, setiap tahun saat Lebaran jumlah orang yang mengambil koran di alun-alun utara bertambah. Mereka ada yang berkelompok atau sendiri. Meski jumlah pengambil koran bekas bertambah, namun tidak sampai mengurangi penghasilan Hendra dan pengambil koran bekas lainnya. (Tri)
MERAPI-TRI DARMIYATI
Hendra saat mengambil kertas koran bekas yang digunakan sebagian besar peserta salat ied di Alun-Alun utara Jumat (10/9).
Subscribe to:
Posts (Atom)